SOPPENG, ML-- Selain debit air mengalami penurunan akibat musim kemarau yang berkepanjangan dan pemadaman listrik secara bergiliran, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Soppeng saat ini sedang dihadapkan pada persoalan yang cukup dilematis, kini ditambah lagi dengan bocornya saluran pipa induk distribusi.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur PDAM Soppeng, Abdul Latif mengatakan, baru-baru ini, dengan bocornya pipa induk distribusi air PDAM tersebut, maka suplai air bersih ke masyarakat semakin berkurang debitnya, khusunya di wilayah kampung Nene Urang dan sekitarnya. Abdul Latif mengakui, pihak kami belum bisa turun melakukan perbaikan, karena untuk menanggulangi kebocoran pipa tersebut, dibutuhkan dana yang cukup besar, sementara saat ini kami masih mengumpulkan dana, setelah turun melakukan survei di lapangan.
Menurut Kabag Administrasi Umum dan Keuangan PDAM Mukhtar M Latif, untuk perbaikan pipa distribusi yang bocor itu dibutuhkan dana sekitar Rp10 juta lebih, karena harga pipa untuk ukuran 12 inci perbatangnya mencapai Rp 2,4 juta. Sementara pipa yang dibutuhkan untuk menanggulangi kebocoran tersebut berdasarkan hasil survei di lapangan, sebanyak enam batang. Itu belum termasuk alat dan aksesoris lainnya seperti sambungan pipa yang harganya sekitar Rp 1,8 juta per unit sambungan.
Untuk sementara ini, lanjut Mukhtar, pihak kami belum turun melakukan pembongkaran pipa, karena belum ada peralatan yang dibeli. Sebab kapan kita lakukan pembongkaran pipa yang bocor itu, maka secara otomatis suplai air langsung terhenti. Sedang alat penggatinya belum ada. “Saya pikir lebih baik ada sedikit air ke rumah pelanggan dari pada tidak ada sama sekali. " ujarnya.
Abdul Latief menambahkan, pemadaman bergilir oleh pihak PLN, juga berdampak pada pendistribusian air, sebab pihak PDAM belum mampu mengantisipasinya dengan pengadaan mesin genset, dikarekan biaya operasional genset cukup besar.
"Jika kita gunakan genset, hanya satu jam setengah difungsikan membutuhkan biaya sebesar Rp 200 ribu, sedangkan waktu untuk satu jam setengah itu, air baru mampu mengisi sebagian pipa distribusi, dengan kata lain air belum sampai ke rumah pelanggan. Karena itu kami di PDAM tidak bisa menggunakan mesin genset, dengan pertimbangan biaya terlalu besar," urai Latif. (**)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar